Yuk, Kenali Bahaya Plastik Bagi Kesehatan!

Plastik merupakan salah satu benda yang digunakan untuk hampir semua kemasan di Indonesia, baik itu untuk makanan maupun pakaian. Bahan ini bahkan bisa kita ditemui di hampir semua barang. Padahal, penggunaan plastik yang tidak sesuai persyaratan akan menimbulkan pelbagai gangguan kesehatan, lho.

Hal ini karena bisa memicu kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). Selain itu plastik pada umumnya sulit untuk didegradasikan (diuraikan) oleh mikro organisme. Nah, sampah plastik ini bahkan bisa bertahan hingga bertahun lamanya dan menyebabkan pencemaran lingkungan.

Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa sampah plastik tidak dibakar saja supaya tidak mencemari lingkungan? Jadi, sampah plastik tidak dibakar karena akan menghasilkan gas yang bisa mencemari udara, efeknya tentu saja membahayakan pernapasan manusia, dan jika tertimbun tanah maka sampah ini bisa mencemari tanah dan air tanah.

Makanya, kamu perlu memahami jenis utama plastik sehingga mengetahui mana penggunaan plastik yang aman dan tidak aman. Kode-kode plastik yang utama ialah PET, HDPE, PVC, LDPE, PP, PS, dsb. Kalau kode plastick yang aman ialah HDPE, LDPE, PP (kecuali PVC). Memilah penggunaan plastik ini bahkan bisa menanggulangi sampah plastik, lho.

Kalau penggunaan plastik dalam kehidupan zaman sekarang ini terlihat sangat pesat, dan buruknya hal ini membuat ketergantungan manusia pada penggunaan plastik semakin tinggi. Alasannya sudah pasti karena plastik ada;ah bahan pembungkus atau wadah yang praktis dan terlihat bersih, juga mudah didapatkan. Selain itu plastik juga tahan lama dan harganya murah. Padahal, kalau digunakan dengan cara yang salah, plastik bisa berbahaya bagi kesehatan.

Perkembangan yang sangat pesat dari industri polimer sintetik membuat kehidupan kita selalu dimanjakan oleh kepraktisan dan kenyamanan dari produk yang dihasilkan, sebagai contoh plastik.

Kebanyakan plastic seperti PVC, agar tidak bersifat kaku dan rapuh ditambahkan dengan suatu bahan pelembut. Beberapa contoh pelembut adalah epoxidized soybean oil (ESBO), di(2-ethylhexyl)adipate (DEHA), dan bifenil poliklorin (PCB), acetyl tributyl citrate (ATBC) dan di(2-ethylhexyl) phthalate (DEHP).

Penggunaan bahan pelembut ini dapat menimbulkan masalah kesehatan, sebagai contoh, penggunaan bahan pelembut seperti PCB dapat menimbulkan kamatian pada jaringan dan kanker pada manusia (karsinogenik), olehkarenanya sekarang sudah dilarang pemakaiannya.. Di Jepang, keracunan PCB menimbulkan penyakit yang dikenal sebagai yusho.

Tanda dan gejala dari keracunan ini berupa pigmentasi pada kulit dan benjolan-benjolan, gangguan pada perut, serta tangan dan kaki lemas. Sedangkan pada wanita hamil, mengakibatkan kematian bayi dalam kandungan serta bayi lahir cacat.

Contoh lain bahan pelembut yang dapat menimbulkan masalah adalah DEHA. Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat, plastik PVC yang menggunakan bahan pelembut DEHA dapat mengkontaminasi makanan dengan mengeluarkan bahan pelembut ini ke dalam makanan.

DEHA mempunyai aktivitas mirip dengan hormon estrogen (hormone kewanitaan pada manusia). Berdasarkan hasil uji pada hewan, DEHA dapat merusak sistem peranakan dan menghasilkan janin yang cacat, selain mengakibatkan kanker hati. Meskipun dampak DEHA pada manusia belum diketahui secara pasti, hasil penelitian yang dilakukan pada hewan sudah seharusnya membuat kita berhati-hati.

Untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi maka sebaiknya jika harus menggunakan plastik maka pakailah plastik yang terbuat dari polietilena dan polypropylene atau bahan alami (daun pisang misalnya).

Sedangkan plastik memiliki tekstur yang kuat dan tidak mudah terdegradasi oleh mikroorganisme tanah. Oleh karena itu seringkali kita membakarnya untuk menghindari pencemaran terhadap tanah dan air di lingkungan kita tetapi pembakarannya dan akan mengeluarkan asap toksik yang apabila dihirup dapat menyebabkan sperma menjadi tidak subur dan terjadi gangguan kesuburan.

Satu lagi yang perlu diwaspadai dari penggunaan plastik dalam industri makanan adalah kontaminasi zat warna plastik dalam makanan. Sebagai contoh adalah penggunaan kantong plastik (kresek) untuk membungkus makanan seperti gorengan dan lain-lain. Menurut seorang ahli kimia, zat pewarna hitam ini kalau terkena panas (misalnya berasal dari gorengan), bisa terurai terdegradasi menjadi bentuk radikal, menyebabkan penyakit.

Nah, di DKI Jakarta sendiri, penggunaan plastik sudah dilarang di beberapa pusat perbelanjaan, sehingga jika ingin berbelanja harus membawa tas sendiri. Yuk, mulai biasakan untuk tidak menggunakan plastik, mulailah langkah kecil untuk mengubah dunia!

Sumber:

Ilmiawati, Cimi, dkk. 2017. Edukasi Pemakaian Plastik Sebagai Kemasan Makanan Dan Minuman Serta Risikonya Terhadap Kesehatan Pada Komunitas Di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Padang dalam Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat Volume 1 (1): 20-28. Padang

Share to your beloved people

Leave a Reply

four × 3 =