Tidak Sulit, Inilah Cara Mengendalikan Pertumbuhan Eceng Gondok

Eceng gondok ialah tanaman liar yang umumnya hidup di daerah perairan. Pertumbuhannya sendiri cepat, bahkan mencapai 3% per hari, lho! Tingkat pertumbuhannya bisa mencapai 100% luas dalam waktu cukup singkat, yaitu dua minggu.

Sayangnya, perkembangan eceng gondok pun menghambat pertumbuhan fitoplankton sehingga memperkecil persediaan pakan bagi jenis ikan tertentu. Selain itu, eceng gondok juga dapat mengakibatkan banjir dan mengganggu saluran irigasi persawahan karena eceng gondok dapat menghambat aliran sungai. Makanya, eceng gondok (Eichornia crassipes) perlu dikendalikan.

Tahukah kamu?

Ada cara untuk mengendalikan pertumbuhan eceng gondok bisa dilakukan dengan pengambilan secara langsung (pemanenan) atau dengan cara menggunakan predator alami. Predator alami yang dimaksud adalah ikan grass carp (Ctenopharyngodon idella) yang merupakan ikan herbivora sehingga bisa memakan tumbuhan air seperti eceng gondok.

Dilansir dari laman Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Di Jambi sendiri sudah ada yang berhasil menggunakan ikan grass carp untuk membersihkan eceng gondok dari  perairan Danau Kerinci dalam waktu 3 tahun (1995-1998).

Nah, 3 tahun ini bukanlah waktu yang sebentar, hal ini membuat diperlukan kombinasi antara penggunaan ikan grass carp dengan pemanenan eceng gondok. Pemanenan eceng gondok memerlukan biaya yang memang cukup mahal. Bukan tanpa alasan, ini terjadi karena pemanenan eceng gondok berlangsung terus menerus.

Tidak hanya itu, ikan grass carp membutuhkan eceng gondok sebagai pakannya. Maka, perlu perhitungan yang tepat mengenai seberapa besar pemanenan yang dilakukan agar dapat meminimalisir biaya pemanenan serta mengecilkan massa eceng gondok. Jika sudah begitu, kita dapat memaksimumkan massa ikan grass carp.

Adapun Analisis Dinamik Model Predator-Prey pada Penyebaran Grass Carp sebagai Biokontrol Populasi Eceng Gondok di Perairan Rawapening pernah dilakukan. Jadi, sistem dinamik antara eceng gondok, ikan grass carp, dan burung predator dimodelkan dalam sistem prey predator.

Selanjutnya, hubungan antara eceng gondok dan ikan grass carp dapat dimodelkan dalam sistem prey- predator. Dalam membuat model matematikanya ada beberapa asumsi yang digunakan, yaitu:

a. Pertumbuhan eceng gondok diasumsikan secara logistik.

b. Ikan grass carp hanya memakan eceng gondok.

c. Predasi ikan grass carp terhadap eceng gondok menggunakan fungsi respon Holling Tipe III.

d. Terdapat faktor pemanenan terhadap eceng gondok ataupun grass carp.

Hasilnya, perlu kamu ketahui bahwa kondisi lingkungan (sistem dinamik) yang hanya ada eceng gondok (tidak terdapat ikan grass carp), pertumbuhannya dapat dikendalikan dengan adanya pemanenan, meskipun pertumbuhannya masih meningkat, namun secara kuantitas jumlah biomassanya dapat menurun.

Perlu kamu ketahui, hal yang sama juga terjadi ketika penerapan kendali optimal oleh pemanenan eceng gondok dilakukan. Sehingga pertumbuhan eceng gondok dapat diminimalkan walaupun biomassa ikan grass carp di waktu akhir tidak sebesar saat tanpa pengendalian. Maka, pertumbuhan eceng gondok dapat dikendalikan dengan cara pemanenan dan penambahan ikan grass carp dalam lingkungannya.

Sumber:

Resmi, Fitroh, dkk. (2019). Kendali Optimal Pertumbuhan Populasi Eceng Gondok dengan Ikan Grass Crap dan Pemanenan. Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi, Volume 20, Nomor 2, September 2019, 132-141.

Kementrian Kelautan dan Perikanan Balai Penelitian Perikanan Perairan Umum. (2014). Penelitian perikanan tangkap di Danau Kerinci Jambi.

Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. (2014). Gerakan penyelamatan danau (Germadan) Kerinci. Kementerian Lingkungan Hidup.

https://www.jstor.org/stable/2260427

https://link.springer.com/article/10.1007/BF02346935

Share to your beloved people

Leave a Reply

five − four =