Suku Sentinel, Suku Paling Sulit Tersentuh Globalisasi

Hari Masyarakat Adat Internasional atau International Day of the World’s Indigenous People’s diperingati pada 9 Agustus setiap tahunnya. Perayaan ini diperingati sejak Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hak-Hak Masyarakat Adat (The United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples) pada 13 September 2007.

Di dunia ini, ada sangat banyak masyarakat, di Indonesia sendiri ada ribuan suku, lho! Dilansir dari indonesia.go.id, Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di Tanah Air menurut sensus BPS tahun 2010. Sangat banyak, ya!

Namun, kita akan membahas salah satu suku yang diklaim oleh beberapa pihak sebagai suku paling menolak kehidupan asing di luar suku mereka. Suku ini adalah Suku Sentinel, yaitu suku paling terpencil di dunia, yang bahkan sudah menarik imajinasi jutaan orang di dunia ini.

Suku ini tinggal di pulau hutan kecil, pulau itu adalah milik mereka, disebut sebagai Sentinel Utara, yang kira-kira seukuran Manhattan. Suku ini selalu menolak kehadiran orang luar, mereka menolak kontak dengan semua orang dari luar sukunya. Mereka bahkan tidak segan menyerang siapa saja yang mendekat.

Kematian Orang Luar Suku Sentinel

Bulan November 2018 menjadi bulan yang begitu nahas bagi John Allen Chau, seorang pria Amerika, dibunuh oleh anggota Suku Sentinel. Jauh sebelum kejadian John, tahun 2006 ada dua nelayan India yang tewas ketika perahu mereka lepas dan hanyut ke pantai. Nelayan yang menambatkan perahu di dekat Sentinel Utara ini tidur setelah perburuan di perairan sekitar pulau.

Pemburu ini diketahui menangkap ikan secara illegal di perairan sekitar pulau, mereka menangkap penyu dan menyelam mencari lobster dan teripang. Padahal, suku ini sudah menjelaskan bahwa mereka tidak ingin ada kontak dengan siapapun di luar suku mereka.

Suku yang Musnah

Ada begitu banyak suku tetangga yang telah musnah setelah Inggris menjajah pulau-pulau mereka, hingga akhirnya mereka kekurangan kekebalan tubuh terhadap penyakit umum seperti flu atau campak. Makanya, hal ini akhirnya memusnahkan mereka.

Berbagai hal yang bisa diketahui tentang Suku Sentinel dikumpulkan dengan melihat mereka dari kejauhan, yaitu dari perahu yang ditambatkan dari jarak jauh. Pada beberaoa periode singkat, ada halnya dimana Suku Sentinel yaitu mengizinkan pihak berwenang untuk cukup dekat, namun mereka harus menyerahkan beberapa buah kelapa.

Mengenal Suku Sentinel

Oh iya, saking tidak tersentuhnya dengan dunia luar, mereka bahkan tidak mengetahui apa yang disebut diri mereka sendiri.

Nah, Suku Sentinel ini berburu dan berkumpul di hutan, suka memancing di perairan pantai. Mereka tidak tampak seperti suku Jarawa yang bertetangga dengan mereka, karena suku tersebut membuat perahu, meskipun perahunya hanya bisa digunakan di perairan dangkal karena dikemudikan dan didorong dengan tiang kecil.

Suku Sentinel diperkirakan hidup dalam tiga kelompok kecil. Mereka memiliki dua tipe rumah yang berbeda, yaitu Gubuk Komunal Besar dengan beberapa perapian untuk sejumlah keluarga dan lebih banyak tempat penampungan sementara. Rumah ini tanpa sisi dan terkadang bisa terlihat di pantai. Rumah yang besar ini pun juga memiliki satu ruang untuk keluarga inti.

Para wanita di suku ini mengenakan tali serat yang diikatkan di pinggang, leher dan kepala mereka. Para pria juga bisanya memakai kalung dan ikat kepala, tetapi dengan ikat pinggang yang lebih tebal. Selain itu, para pria juga membawa tombak, busur dan anak panah.

Bukan Suku Dari Zaman Batu

Beberapa media menganggap mereka seperti masyarakat dari zaman batu, namun kabar ini tidak benar-benar bisa dipercaya. Sebab, tidak ada alasan untuk percaya bahwa Suku Sentinel telah hidup dengan cara yang sama selama puluhan ribu tahun, seperti di Andaman.

Cara hidup suku ini berubah-ubah, mereka beradaptasi berkali-kali seperti masyarakat pada umumnya. Contoh kecilnya ialah mereka sekarang menggunakan logam yang telah dicuci atau yang telah mereka perbaiki dari bangkai kapal di Pulau Karang. Besi biasanya diasah dan digunakan untuk mengarahkan panah mereka.

Meskipun hanya dilihat dari kejauhan, penduduk Pulau Sentinel terlihat sangat sehat dan berkembang. Hal ini cukup kontras dengan suku Andaman Besar yang Inggris coba untuk membawa peradaban di dalamnya.

Masyarakat suku ini terlihat di pantai Sentinel Utara ini seperti menunjukkan bahwa mereka merasa bangga, kuat dan sehat, bahkan pada suatu waktu pengamat mencatat ada banyak anak-anak dan ibu hamil di suku ini.

Untuk kamu yang ingin berkunjung melihat suku ini, lebih baik tidak coba-coba ya, karena suku ini tidak terbiasa dengan warga asing dari sukunya. Kendati demikian, pemerintah setempat tetap berusaha untuk memulai pertemanan dengan suku ini, dengan harapan mereka memiliki keterbukaan terhadap sukunya.

Jika suku ini tidak ingin tersentuh dunia luar, maka jaga saja supaya peradabannya tidak musnah. Misalnya, dengan menghargai keputusan mereka untuk bertahan hidup tanpa peran warga asing.

Sumber:

https://www.survivalinternational.org/tribes/sentinelese

Share to your beloved people

Leave a Reply

five × 5 =