Punya Banyak Destinasi Wisata Laut, Inilah Efektivitas Mitigasi Bencana Alam di Indonesia

Indonesia mempunyai sangat banyak tempat wisata pantai, mengingat Indonesia adalah negara maritime yang sangat luas dan memiliki keindahan alam yang sangat indah membuat wisata pantai di Indonesia sangat diminati masyarakat setempat bahkan turis. Namun, karena hal ini juga Indonesia bukanlah negara bebas bencana alam, bencana alam Tsunami sendiri sudah beberapa kali terjadi di Indonesia.

Tsunami sendiri berasal dari bahasa Jepang yaitu tsu = pelabuhan dan nami = gelombang. Jadi tsunami berarti pasang laut besar di pelabuhan. Dilansir dari Pedoman Mitigasi Bencana Alam di Wilayah Pesisir dan Pulau – Pulau Kecil milik Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menjelaskan dalam ilmu kebumian terminologi ini dikenal dan baku secara umum. Secara singkat tsunami dapat dideskripsikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh suatu gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut, seperti gempa bumi, erupsi vulkanik atau longsoran (land-slide).

Nah, gangguan impulsif pembangkit tsunami biasanya berasal dari tiga sumber utama, yaitu gempa didasar laut, letusan gunung api didasar laut, dan longsoran yang terjadi di dasar laut.

Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsif bersifat transien yaitu gelombangnya bersifat sesar. Gelombang semacam ini berbeda dengan gelombang laut lainnya yang bersifat kontinyu, seperti gelombang laut yang ditimbulkan oleh gaya gesek angin atau gelombang pasang surut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa. Periode gelombang tsunami ini berkisar antara 10-60 menit.

Makanya, Gelombang tsunami mempunyai panjang gelombang yang besar sampai mencapai 100 km. Kecepatan rambat gelombang tsunami di laut dalam mencapai antara 500 sampai 1.000 km/jam. Kecepatan penjalaran tsunami ini sangat tergantung dari kedalaman laut dan penjalarannya dapat berlangsung mencapai ribuan kilometer. Apabila tsunami mencapai pantai, kecepatannya dapat mencapai 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya.

Namun ditengah lautan tinggi gelombang tsunami paling besar sekitar 5 meter, maka pada saat mencapai pantai tinggi gelombang dapat mencapai puluhan meter. Hal ini karena terjadi penumpukan massa air, maka pada saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai.

Tinggi rayapan (run-up) tsunami ini dapat mencapai belasan meter atau bahkan puluhan meter dengan jangkauan mencapai sekitar 5000 m dari garis pantai, lho. Dampak negatif yang diakibatkannya menyebabkan genangan, kontaminasi air asin lahan pertanian, tanah dan air bersih. Selanjutnya tsunami dapat merusak bangunan, prasarana dan tumbuh-tumbuhan serta mengakibatkan korban jiwa manusia.

Indonesia memiliki beberapa kelompok pantai yang rawan bencana tsunami, yaitu kelompok Pantai Barat Sumatera, Pantai Selatan Pulau Jawa, Pantai Utara dan Selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian Jaya dan hampir seluruh pantai di Sulawesi. Hampir seluruh wilayah di Indonesia, ya!

Lalu, teluk dan bagian yang melekuk dari pantai sangat rawan akan bencana ini. Bahkan biasanya para nelayan mencari ikan dan bermukim di teluk. Selain itu daerah ini juga memiliki pantai landai yang memungkinkan gelombang pasang merayap ke daratan.

Tahukah kamu?

Tsunami yang terjadi di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya. Selama kurun waktu 1600–1999 terdapat 105 kejadian tsunami dimana 90% disebabkan oleh gempa-gempa tektonik, 9 % disebabkan oleh letusan gunung api dan 1 % disebabkan oleh longsoran. Rata-rata interval waktu kejadian tsunami adalah 10 tahun.

Data tsunami di Indonesia menunjukan bahwa gempa-gempa pembangkit tsunami mempunyai magnitudo berkisar antara M = 5,6– 7,0 dengan kedalaman hiposenter berkisar antara 13 – 95 km dengan kedalaman rata-rata sekitar 60 km.

Magnitudo tsunami (m dalam Skala Imamura) yaitu tinggi rendahnya gelombang tsunami yang sampai di pantai. Magnitudo Tsunami juga mempresentasikan besarnya energi gelombang yang di hasilkan. Besar energi gelombang tsunami (m) ialah korelasi linear dengan besarnya magnitude gempa dalam Skala Richter (M) dengan hubungan empiris.

Dicatat, yuk!

Kerusakan yang ditimbulkan oleh gelombang tsunami pasti beragam, lho! Kita akan mengelompokkannya menjadi beberapa tipe sebagai berikut:

a. Kerusakan struktural bangunan akibat gaya hidrodinamik gelombang,

b. Keruntuhan struktur bangunan karena fondasinya tergerus air laut yang amat deras,

c. Kerusakan struktural bangunan akibat hantaman benda-benda keras, seperti kapal dan semacamnya yang terbawa oleh gelombang.

Upaya Mitigasi Bencana Tsunami Struktural

Upaya struktural dalam menangani masalah bencana tsunami adalah upaya teknis yang bertujuan untuk meredam atau mengurangi energi gelombang tsunami yang menjalar ke kawasan pantai.

Tsunami ini bahkan menjalar secara frontal dengan arah tegak lurus terhadap bidang subduksi, sedangkan secara garis besar teluk-teluk dan pelabuhan-pelabuhan yang potensial terhadap bahaya tsunami (yaitu yang mengandung langsung ke zona subduksi) dapat ditetapkan, dan trayek penjalaran tsunami ke teluk-teluk atau pelabuhan-pelabuhan tersebut dapat diperkirakan.

Berdasarkan pemahaman atas mekanisme terjadinya tsunami, karakteristik gelombang tsunami, inventarisasi dan identifikasi kerusakan struktur bangunan, maka upaya struktural tersebut dapat dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu:

1. Alami, seperti penanaman green belt (huran pantai atau mangrove), di sepanjang kawasan pantai dan perlindungan terumbu karang.

2. Buatan,

a) Pembangunan breakwater, seawall, pemecah gelombang sejajar pantai untuk menahan tsunami,

b) Memperkuat desain bangunan serta infrastruktur lainnya dengan kaidah teknik bangunan tahan bencana tsunami dan tata ruang akrab bencana, dengan mengembangkan beberapa insentif, antara lain:

• Retrofitting: agar kondisi bangunan permukiman memenuhi kaidah teknik bangunan tahan tsunami,

• Relokasi: salah satu aspek yang menyebabkan daerah rentan bencana adalah kepadatan permukiman yang cukup tinggi sehingga tidak ada ruang publik yang dapat dipergunakan untuk evakuasi serta terbatasnya mobilitas masyarakat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memindahkan sebagian pemukiman ke lokasi lain, dan menata kembali pemukiman yang ada yang mengacu kepada konsep kawasan pemukiman yang akrab bencana.

Upaya Mitigasi Bencana Tsunami Non Struktural

Upaya non struktural merupakan upaya non teknis yang menyangkut penyesuaian dan pengaturan tentang kegiatan manusia agar sejalan dan sesuai dengan upaya mitigasi struktural maupun upaya lainnya. Upaya non struktural tersebut meliputi antara lain :

1. Peraturan perundangan yang mengatur tentang bencana alam

2. Kebijakan tentang tata guna lahan / tata ruang/ zonasi kawasan pantai yang aman bencana

3. Kebijakan tentang standarisasi bangunan (pemukiman maupun bangunan lainnya) serta infrastruktur sarana dan prasarana

4. Mikrozonasi daerah rawan bencana dalam skala lokal

5. Pembuatan peta potensi bencana tsunami, peta tingkat kerentanan dan peta tingkat ketahanan

Sehingga dapat didesain komplek pemukiman “akrab bencana” yang memperhatikan beberapa aspek :

a. Bangunan permukiman tahan terhadap bencana tsunami,

b. Mobilitas dan akses masyarakat pada saat terjadi bencana,

c. Ruang fasilitas umum untuk keperluan evakuasi, dan

d. Aspek sosial ekonomi masyarakat yang sebagian besar kegiatan perekonomiannya tergantung pada hasil dan budidaya kawasan pantai.

6. Kebijakan tentang eksplorasi dan kegiatan perekonomian masyarakat kawasan pantai

7. Pelatihan dan simulasi mitigasi bencana tsunami

8. Penyuluhan dan sosialisasi upaya mitigasi bencana tsunami

9. Pengembangan sistem peringatan dini adanya bahaya tsunami

Ancaman tsunami dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu ancaman tsunami jarak dekat (lokal) dan ancaman tsunami jarak jauh. Kejadian tsunami di Indonesia pada umumnya adalah tsunami lokal yang terjadi sekitar 10 – 20 menit setelah terjadinya gempa bumi dirasakan oleh masyarakat setempat. Sedangkan tsunami jarak jauh terjadi 1 – 8 jam setelah gempa dan masyarakat setempat tidak merasakan getaran gempa buminya.

Informasi tsunami dan gempa bumi pada sistem monitoring terdiri dari beberapa proses sebelum menjadi peringatan yaitu proses deteksi, perhitungan hypocenter, perkiraan tsunami, perkiraan resiko dan peringatan.

Sistem pengamatan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) sekarang ini memerlukan waktu 30 menit sampai 3 jam untuk menyelesaikan proses di atas. Saat ini BMG yang mempunyai tugas memantau aktivitas gempa bumi dan tsunami mengoperasikan jaringan pemantau gempa bumi yang terdiri dari 58 sensor.

Sistem pemantauan tersebut dibagi menjadi 5 (lima) Wilayah Jaringan Regional yang berpusat di Medan, Ciputat (Jakarta), Denpasar, Makasar dan Jayapura. Walaupun demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa Pemerintah Daerah maupun Perguruan Tinggi memiliki jaringan seismograf.

Sistem Peringatan Dini yang Tidak Efektif di Indonesia

Melihat kondisi tersebut di atas terlihat bahwa sistem peringatan dini terjadinya bencana tsunami yang ada di Indonesia sangat tidak efektif. Hal ini disebabkan antara lain:

a. Sistem pengamatan yang memerlukan waktu antara 30 menit sampai 3 jam tidak sesuai dengan karakteristik bencana tsunami di Indonesia yang cenderung bersifat lokal dengan waktu 10 – 20 menit,

b. Sistem pengamatan tersebut belum terintegrasi dengan kondisi riil di lapangan; hal ini selain disebabkan keterbatasan jumlah stasiun pengamatan yang ada juga sosialisasi di lapangan belum terintegrasi dengan intansi yang terkait dengan pengelolaan kawasan pantai, dalam hal ini Departemen Kelautan dan Perikanan,

c. Belum adanya mekanisme komunikasi antara stasiun pengamatan (yang dikelola BMG) dengan daerah yang rawan bencana.

Sistem peringatan dini untuk tsunami lokal akan efektif jika mekanisme komunikasi dan diseminasi hasil pemantauan terjadinya aktivitas gempa bumi, longsoran dasar laut serta letusan gunung api yang dapat memicu terjadinya gelombang tsunami dapat secara langsung diterima masyarakat.

Salah satu upaya yang diperlukan terkait dengan teknologi peringatan dini adalah sistem TREMORS (Tsunami Risk Evaluation through Seismic Moment from Real-Time System) yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik tsunami di Indonesia. Selain itu, mekanisme komunikasi dan diseminasi informasi tentang bencana gempa (sebagai penyebab bencana tsunami) dari BMG perlu diintegrasikan dengan Departemen Kelautan dan Perikanan.

Sumber:

Direktorat Jenderal Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil. 2004. Pedoman Mitigasi Bencana Alam di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Jakarta Pusat.

Share to your beloved people

Leave a Reply

20 − seven =