Aksi di Hari Buruh: Jangan Sampai Anak Cucu Kami Menderita!

Sebuah catatan kecil yang membekas bagi seorang anak buruh, hal-hal hebat lahir dari pemikiran seorang buruh yang hidup dengan perjuangan, yang tidak ingin waktu puluhan tahunnya mengabdi pada perusahaan dihardik pemerintah yang kebijakannya selalu “katanya” menyejahterakan, namun nyatanya membuat sengsara.

Akan selalu ada kontra dari setiap perilaku, tidak lain halnya dengan demo buruh setiap tahun, atau bahkan setiap ada kebijakan baru mengenai buruh yang melenceng dari tuntutan buruh di tahun-tahun sebelumnya. Apalagi setelah Omnibus Law disahkan menjadi Undang-Undang.

Bukankah lucu? Ketika ada orang-orang konglongmerat merasa berhak menyerukan bahwa buruh tidak bersyukur dengan pendapatannya yang makin tahun juga makin tinggi. Mereka lupa, bahwa harga-harga pun ikut melonjak di pasaran. Tapi tidak apa-apa, mereka (yang bukan buruh) hanya tidak tahu bahwa orang-orang yang sering berdemo buruh ialah mereka yang tidak ingin anak cucunya merasakan ketidakadilan dari kebijakan pemerintah yang menyokong ketidakadilan pemilik perusahaan atau sebut saja para pemilik modal.

Dilansir dari beberapa sumber, ada banyak hal yang membuat demo buruh selalu terjadi setiap tahunnya. Ironi, namun inilah kenyataan mengapa buruh selalu melakukan aksi setiap tahunnya. Pertama, buruh selalu menolak kenaikan harga BBM, hal ini sejalan dengan akan naiknya seluruh biaya kehidupan jika bahan bakar minyak ini mengalami kenaikan harga.

Kedua ialah masalah upah minimum, berdasarkan data statistik upah minimum di Asia dan sekitarnya pada tahun 2013, Indonesia menjadi negara yang paling rendah dibanding negara ASEAN, nilai upahnya hanya lebih tinggi dibanding Vietnam dan Kamboja. Ketiga dan yang sangat krusial ialah masalah jaminan kesehatan. Buruh menuntut revisi pada Peraturan Presiden (Perpres) Jaminan Kesehatan dan revisi Peraturan Pemerintah (PP) mengenai Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Keempat ialah masalah penghapusan outsourcing di BUMN karena BUMN harusnya menjadi perusahaan negara yang menjadi contoh dalam penegakan aturan Permenakertrans Nomor 19 Tahun 2012, bukan hanya itu, namun pengangkatan pekerja outsourcing juga diminta untuk segera menjadi pekerja tetap di perusahaan BUMN sesuai mekanisme aturan Permenakertrans Nomor 19 Tahun 2012. Hal yang paling menjadi harapan buruh selain untuk hari ini, ialah untuk masa depan keluarganya, dimana tuntutan yang biasanya ada ialah pelarangan pekerja outsourcing di seluruh perusahaan swasta, kecuali pekerjaan yang sesuai dengan aturan yang ada di aturan Permenakertrans Nomor 19 Tahun 2012, seperti supir, katering, petugas kebersihan, bagian keamanan dan jasa penunjang di pertambangan.

Kelima ialah penolakan buruh terhadap aturan-aturan yang membatasi kebebasan berserikat dan kebebasan berpendapat yang sebenarnya sudah dilindungi oleh UUD 1945, sebab berserikat ialah salah satu penguat untuk buruh saling bahu-membahu menolak kebijakan perusahaan yang menelangsakan pekerjanya pun pemerintah yang mendukung kebijakan perusahaan demi melanggengkan investor berada di Indonesia. Terakhir ialah harapan bagi semua massa aksi, bukan hanya buruh, dimana mereka menuntut Stop Union Busting dan Premanisme terhadap aktivis. Apalagi aktivis buruh.

Aksi yang dilakukan oleh buruh tentunya bisa membawa dampak luar biasa, semisal kenaikan UMR atau Upah Minimum Regional bagi para pekerja yang dahulu disepelekan, berkat aksi yang terus-menerus dilakukan akhirnya pemerintah membuat kebijakan yang akhirnya bersifat absolut untuk dilakukan oleh pemilik usaha atau pemilik modal.

Buruh yang membentuk serikat sebenarnya hanya tidak ingin diantara mereka berjuang masing-masing untuk mendapat keadilan, meskipun tidak semua perusahaan membiarkan buruh pekerjanya sebagai anggota dari serikat karena dianggap sebagai ancaman, inilah yang membuat tidak jarang buruh dipecat atau PHK karena mengikuti serikat atau mengikuti demo buruh.

Harapan selalu ada untuk kesejahteraan buruh, perjuangan hingga kematian dari perjuangan buruh membuat seluruh masyarakat harusnya bahu-membahu membentuk kekuatan supaya bisa melawan ketidakadilan yang langgeng sedari dulu, terhadap buruh khususnya.

Sumber: Riani, Sisilia Nanik. (2017). Perlindungan Terhadap Kebebasan Buruh. Jurnal Ilmiah, 7-13.

Share to your beloved people

Leave a Reply

six − five =